Jl. Dewi Sartika Gg Al-Khasiyun No. 22 Kel, Cipayung, Ciputat
0813-9527-8802

24/7 Customer Support

Call: 0813-9527-8802

Free Shipping Jakarta

Call us for information

Money Back Guarantee

45 days return Service

I can say without doubt that your team are a true pleasure to work with. They are easy to communicate with which make process smooth. Highly recommended.

Vijay , ABC infotech

  • Vijay
  • Joth Soe
  • Willium Smith
  • Lora smith

Exclusive This Month

Join 100,321 Happy readers And Get Access To Our Entire Collection Of 1000 ebooks For The Price Of One

We offer a 45 Day Money Back Guarantee, so joining is risk-free!

 
Sign Up Today

New arrivals

Featured Products

staff picks

Latest from our blog

We love to share our thoughts

Buku tentang sejarah dan corak budaya lokal wilayah timur Indonesia, bisa dikatakan masih belum banyak. Kehadiran buku ini, setidaknya, menambah sudut pandang baru tentang kekayaan warna lain dari corak budaya Nusantara dengan menampilkan local wisdom dari timur Indonesia, yaitu dari sebuah desa bernama Desa Sidanga yang terletak di kepulauan Maluku Utara, tepatnya di Kabupaten Halmahera Selatan. Desa ini berada di Selat Hatta, diapit deretan pulau yang indah dikelilingi gunung bukit hijau.

Ditulis oleh para putra daerahnya, buku ini merekam jejak perkembangan sejarah Desa Sidanga dalam berbagai aspeknya. Sebagaimana dituturkan oleh penulisnya, buku ini sekaligus sebagai panggilan untuk mewujudkan Desa Sidanga sebagai “Kampung Pluralisme”. Hal ini mengingat, potensi ragam budaya tumbuh di dalamnya sehingga perlu untuk terus dipupuk benih toleransi dan harmoni di tengah berbagai perbedaan tersebut.

Masyarakat daerah ini umumnya hidup dari pertanian dan hasil laut. Usaha cocok tanam adalah pekerjaan yang terlamunkan sejak dulu hingga sekarang. Laut menyimpan kekayaan yang besar dan mereka telah menggarapnya berupa berbagai jenis ikan serta hasil-hasil lainnya seperti mutiara, rumput laut, udang, siput, teripang, cumi-cumi, kerang. Teluk Hatta dan Sidanga bukan saja indah, tapi bermakna. Penduduk asli, sekaligus awal masyarakat Desa Sidanga adalah orang Tobelo Galela (Togale) dari Halmahera Utara. Sebagai cikal bakal awal datanglah seorang yang bernama Tarusi.

Warga Desa Sidanga dikenal religius dan hidup toleran. Islam masuk dan hadir secara damai, diterima secara adaptif dan akomodatif dengan budaya sebelumnya tanpa konfrontasi yang berarti. Watak damai dan harmoni ini menjadi modal bergarga dan menunjang kehidupan yang lebih baik di berbagai bidang, sejak pendidikan, agama, sosial, ekonomi hingga keamanan warga. Masjid menjadi pusat kegiatan warga, baik sebagai pusat ibadah, juga sebagai pusat perekat harmoni dan kegiatan sosial-kemasyarakatan.

Penulis

Arwin Lapane [et al.]

Cetakan

I, 2026

Ukuran

14,5 x 21 cm

Tebal

xii + 219 halaman

Penerbit

Media Kalam

ISBN

978-634-7596-02-4

Napaktilas Desa Sidanga: Masjid, Religiusitas, dan Harmoni Budaya di Tanah Saruma Halmahera Selatan
SKU Napaktilas_Desa_Sidanga__Masjid__Religiusitas__dan_Harmoni_Budaya_di_Tanah_Saruma_Halmahera_Selatan
0
Email to friend